Notaris di Era Digital: Kepastian Akta dan Etika Promosi

Avatar

- Redaksi

Sabtu, 20 Desember 2025 - 21:58

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Varaly Aiditya Lavida, S.H. / Mahasiswa Magister Kenotariatan Unja

OPINI – Notaris merupakan pejabat umum yang memiliki kewenangan atribusi dari undang-undang untuk membuat akta autentik yang berfungsi sebagai alat bukti tertulis yang sempurna.

Kedudukan notaris dalam sistem hukum nasional sangat strategis karena akta yang dibuatnya memiliki kekuatan pembuktian yang tinggi, memberikan kepastian hukum, serta melindungi hak dan kewajiban para pihak dalam hubungan hukum perdata. Oleh karena itu, profesi notaris sering disebut sebagai officium nobile yang menuntut integritas, independensi, dan kepatuhan
tinggi terhadap hukum dan kode etik profesi.

Memasuki era digital, perkembangan teknologi informasi dan media online telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam bidang pelayanan hukum. Media online dan media sosial menjadi sarana utama dalam penyebaran informasi, komunikasi, dan bahkan promosi jasa profesional. Kondisi ini turut memengaruhi praktik kenotariatan, di mana notaris tidak lagi hanya berinteraksi secara konvensional dengan klien, tetapi juga menghadapi tuntutan pelayanan yang cepat, transparan, dan berbasis teknologi.

BACA JUGA :  Cyber Notary dan Politik Hukum: Menatap Masa Depan Akta Otentik

Namun demikian, perkembangan tersebut tidak selalu diikuti dengan pembaruan regulasi yang memadai. Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN) masih berorientasi pada praktik kenotariatan konvensional dan belum mengatur secara rinci berbagai fenomena baru, seperti penggunaan media online dalam pelayanan kenotariatan, digitalisasi dokumen, serta
batasan etika promosi notaris di ruang digital. Kondisi ini menimbulkan potensi kekosongan hukum (rechtvacuum) maupun norma yang bersifat multitafsir.

BACA JUGA :  Wakil Ketua Komisi lll DPRD Batang Hari Adison Gunakan Hak Suara Di TPS 04 Desa Bajubang Laut

Dalam situasi tersebut, notaris dituntut untuk melakukan penemuan hukum (rechtsvinding) dalam praktiknya. Penemuan hukum menjadi instrumen penting untuk menjembatani kesenjangan antara norma hukum tertulis dengan realitas sosial yang berkembang. Akan tetapi, penemuan hukum oleh notaris tidak dapat dilakukan secara bebas tanpa batas, melainkan harus tetap berada dalam koridor kewenangan jabatan, asas kehatihatian, serta etika profesi guna menjaga keotentikan akta dan kepercayaan publik. Di sisi lain, praktik kenotariatan di era media online juga memunculkan persoalan etika promosi.

Penggunaan media sosial dan platform digital sebagai sarana promosi jasa notaris menimbulkan dilema antara kebutuhan adaptasi terhadap perkembangan zaman dan kewajiban menjaga martabat serta independensi profesi. Promosi yang berlebihan atau bersifat komersial berpotensi melanggar kode etik notaris dan mengaburkan fungsi notaris sebagai pejabat umum yang netral.

BACA JUGA :  Sekda Azan Hadiri Peresmian dan Peletakan Batu Pertama Gedung Diniyyah Al-Azhar

Kondisi tersebut menempatkan politik hukum kenotariatan pada posisi yang sangat penting. Politik hukum berperan dalam menentukan arah kebijakan pembentukan, pembinaan, dan pengawasan profesi notaris agar tetap mampu menjamin kepastian akta, melindungi kepentingan masyarakat, serta merespons tantangan digital secara proporsional. Politik hukum yang tidak adaptif berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum, baik bagi notaris maupun bagi masyarakat pengguna jasa notaris.

Berita Terkait

Notaris di Pusaran Kriminalisasi: Dialektika Politik Hukum dan Penemuan Hukum
Politik Hukum Jabatan Notaris
Perlindungan Hukum Terhadap Notaris Dalam Pelaksanaan Jabatan
Penemuan Hukum dan Politik Hukum Terkait Notaris: Sebuah Tinjauan
Cyber Notary dan Politik Hukum: Menatap Masa Depan Akta Otentik
Hubungan Praktik dan Kebijakan Politik Hukum Dalam Implementasi Hukum Notaris
Jabatan Notaris Sebagai Upaya Menjaga Kepastian Hukum
Ketidakjelasan Batas antara Kesalahan Administratif dan Tanggung Jawab Pidana Notaris
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 21:22

Safari Jumat Kuala Dasal: Bupati Anwar Sadat Tekankan Persatuan, Serahkan Bantuan dan Tampung Aspirasi Warga

Senin, 27 Juli 2026 - 19:52

Mobil Travel Padang-Jambi Terjun ke Sungai Batanghari, Satu Penumpang Tewas

Sabtu, 25 Juli 2026 - 20:43

Kapolda Jambi Sambangi FSO 115 di Selat Berhala, Tegaskan Dukungan Penuh Keamanan Operasional Hulu Migas

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:16

Dugaan Korupsi BUMDes Lampisi, Dana Alat Berat Dikabarkan Raib

Senin, 20 Juli 2026 - 22:11

Sinergi Kunci Keberhasilan, Bupati Anwar Sadat Tegaskan Kolaborasi Penuh Pemkab dan DPRD Sambut APBD 2027

Senin, 20 Juli 2026 - 20:07

Semangat Tahun Ajaran Baru, PLN Hadirkan Diskon Tambah Daya Hingga 50 Persen

Senin, 20 Juli 2026 - 14:47

PLN ULP Kuala Tungkal Jadwalkan Pemeliharaan Kelistrikan Demi Keandalan Layanan Masyarakat

Minggu, 19 Juli 2026 - 09:12

Dorong UMKM Naik Kelas, SKK Migas – MontD’Or Oil Tungkal Ltd Fasilitasi Alat dan Bimtek Membatik Kader PKK Mengupeh

Berita Terbaru