Cyber Notary dan Politik Hukum: Menatap Masa Depan Akta Otentik

Avatar

- Redaksi

Minggu, 21 Desember 2025 - 08:26

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: AZKIA NABILA, S.H. / MAHASISWI KENOTARIATAN UNIVERSITAS JAMBI

OPINI – Era disrupsi digital tidak lagi sekadar mengetuk pintu profesi hukum; ia telah mendobraknya. Salah satu isu paling krusial dalam transformasi ini adalah konsep Cyber Notary. Di Indonesia, perdebatan mengenai Cyber Notary bukan sekadar soal teknis komputerisasi, melainkan persoalan mendasar dalam politik hukum dan bagaimana penemuan hukum dilakukan untuk menjaga “kesaktian” akta otentik di ruang siber.

BACA JUGA :  Ketidakjelasan Batas antara Kesalahan Administratif dan Tanggung Jawab Pidana Notaris

Secara tradisional, kekuatan akta otentik bersandar pada prinsip physical presence atau kehadiran fisik para pihak di hadapan Notaris. Hal ini bertujuan agar Notaris dapat memastikan kapasitas, kecakapan, dan kehendak bebas para pihak secara langsung.

Namun, politik hukum global yang menuntut efisiensi dan kecepatan sebagaimana tercermin dalam semangat Ease of Doing Business (EoDB) mulai mempertanyakan relevansi kehadiran fisik tersebut. Di sinilah peran Notaris sebagai penemu hukum diuji. Notaris harus mampu menginterpretasikan makna “menghadap” sebagaimana diatur dalam UU Jabatan Notaris (UUJN) ke dalam konteks digital tanpa mendegradasi derajat kepastian hukum.

BACA JUGA :  Asisten 2 Setda Kabupaten Batanghari Hadiri Penutup Turnamen Antara Pelajar

Meskipun Pasal 15 ayat (3) UUJN memberikan kewenangan bagi Notaris untuk mensertifikasi transaksi secara elektronik, politik hukum kita masih tampak ambivalen. Di satu sisi, UU ITE telah mengakui legalitas dokumen elektronik, namun di sisi lain, hukum acara perdata kita masih menempatkan akta otentik fisik sebagai “primadona” alat bukti.

BACA JUGA :  Protokol Notaris, Penemuan Hukum, dan Politik Hukum Kenotariatan

Politik hukum ke depan harus memberikan payung hukum yang tegas. Negara tidak boleh hanya menuntut digitalisasi demi angka investasi, tetapi juga harus menjamin perlindungan hukum bagi Notaris yang menjalankan praktik secara elektronik.

Berita Terkait

Notaris di Pusaran Kriminalisasi: Dialektika Politik Hukum dan Penemuan Hukum
Politik Hukum Jabatan Notaris
Perlindungan Hukum Terhadap Notaris Dalam Pelaksanaan Jabatan
Penemuan Hukum dan Politik Hukum Terkait Notaris: Sebuah Tinjauan
Hubungan Praktik dan Kebijakan Politik Hukum Dalam Implementasi Hukum Notaris
Jabatan Notaris Sebagai Upaya Menjaga Kepastian Hukum
Ketidakjelasan Batas antara Kesalahan Administratif dan Tanggung Jawab Pidana Notaris
Ketidakhadiran Negara dalam Perlindungan Hukum Notaris sebagai Pejabat Umum
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 23:09

Waspada! Dua Pengendara Motor Diduga Coba Lakukan Aksi Jambret di Wilayah Tungkal Ulu

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:53

BUMDes Badang Sepakat Jual Elpiji di Atas HET, Pangkalan Atas Nama Anak Pengelola, Tak Transparan

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:44

DPRD Batang Hari Gelar Rapat Badan Kehormatan, Laksanakan Sidang Kode Etik Demi Tegakkan Kehormatan Lembaga

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:42

Warga Desa Sungai Buluh Unjuk Rasa di DPRD Batang Hari, Tuntut PT JDR Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:40

DPRD Batang Hari Sambut Kunjungan Kerja DPRD Kapuas, Pererat Kerja Sama dan Bertukar Pengalaman

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:35

DPRD Batang Hari Gelar Rapat Gabungan, Pastikan THR dan Gaji Perangkat Desa Cair Tepat Waktu

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:32

DPRD Batang Hari Gelar RDP Lintas Komisi, Bahas Skema dan Kepastian Gaji Perangkat Desa

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:29

DPRD Batang Hari Gelar Paripurna, Serahkan Rekomendasi Terhadap LKPJ Bupati Tahun Anggaran 2025

Berita Terbaru