“Korupsi dan Institusionalisasi Partai Politik”

Avatar

- Redaksi

Jumat, 18 November 2022 - 12:04

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sanny Elysa Situmorang/Mahasiswi Ilmu Politik Universitas Jambi

Sanny Elysa Situmorang/Mahasiswi Ilmu Politik Universitas Jambi

Oleh : Sanny Elysa Situmorang / Mahasiswi Ilmu Politik Universitas Jambi

Mendekati pesta pora demokrasi satu per satu kejutan-kejutan politik mulai menampakkan wajah. Kejutan yang terbaru, Ketua Umum PPP Romahurmuziy terkena OTT KPK atas dugaan jual beli jabatan pada Kementerian Agama. Kejadian ini sekali lagi memberi tamparan, sekaligus memperingatkan adanya ketidakstabilan sistem dalam kehidupan politik Indonesia.

Jika mengadopsi pendapat Huntington (1968), maka ketidakstabilan ini merupakan akibat dari ketidakberdayaan sistem politik untuk mengarahkan suatu tatanan pada pelembagaan lembaga-lembaga politik. Apabila sudah begini, maka yang terjadi adalah ketidakteraturan yang berdampak pada munculnya penyakit-penyakit politik, salah satunya adalah “korupsi politik”. Kg

Korupsi politik ini berdampak pada empat hal, yakni kehancuran parpol, ketidakterlembaganya sistem kepartaian, tergerusnya solidaritas negara, dan hilangnya kepercayaan publik. Tentu kejadian yang menimpa elite PPP tersebut semakin menegaskan tesis Kunichova, terutama terkait dengan institusionalisasi partai yang sangat lemah. Saya menyoroti “institusionalisasi”, sebab ia merupakan roh atau hati suatu partai politik. Jika roh atau hati ini buruk, maka buruk pula aktivitas keorganisasian yang dilakukan.

BACA JUGA :  Sekda Tanjabbar Dampingi Dirjen Bina Pemdes Kemendagri Pada Monitoring & Evaluasi Lomba Desa, Di Desa Purwodadi Tebing Tinggi

KPK menyatakan bahwa ketidakintegritasnya parpol diakibatkan oleh empat faktor, yakni ketiadaan standar etik, kaderisasi yang lesu, rekrutmen yang kacau, dan tata kelola keuangan partai yang masih serampangan. Faktor yang pertama bisa disimak dalam kasus yang menimpa Romahurmuziy terkait jual beli posisi yang sangat strategis: kementerian pengatur hidup beragama. Rentetan fakta-fakta yang ada menampakkan suatu kondisi bahwa Romahurmuziy selaku pimpinan partai secara masif berupaya untuk membentuk kelompok-kelompok kohesif yang bekerja guna meningkatkan peluang-peluang agar tetap memegang kekuasaan, sekaligus mencari untung jangka panjang, terutama terkait hajat elektoral.

Apabila hal ini tidak segera diinsyafi oleh para elite, maka bisa saja berdampak pada munculnya kecurigaan publik terhadap beberapa kementerian yang saat ini dipimpin oleh elite parpol tertentu. Faktor kedua dan ketiga, yakni kaderisasi dan rekrutmen, bisa disimak lewat pengakuan KPK yang berpendapat,bahwa selama ini keberadaan partai politik belum bisa dikatakan sebagai pihak yang serius menciptakan good governance, melainkan masih mempraktikkan perilaku bad governance. Bahkan KPK mencatat, pada 2004-2016, sebanyak 32% pelaku tindak korupsi berasal dari para pemimpin publik yang berangkat dari partai politik.

BACA JUGA :  Camat Marosebo Ulu Sampaikan Hal ini, Di Saat Pelantikan TP-PKK Desa.

Salah satu sebab ironi parpol tersebut adalah ketiadaan sistem kaderisasi dan rekrutmen politik yang sistematis, baku, dan berjenjang. Kalau toh ada, mungkin hanya terfokus pada formalitas seleksi atau pelatihan keanggotaan saja; tidak tegas dan inkonsisten dalam penerapannya. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga menegaskan semua itu bersumber dari logika partai yang masih didominasi oleh elite, di mana prosedur kepartaian yang dibuat justru dengan mudahnya dilanggar oleh elite partai sendiri.

Sebut saja maraknya rumus vote seeking lewat peminangan terhadap tokoh publik yang sudah populer, padahal dalam partai tentu sudah mengatur jenjang kaderisasi dan mekanisme rekrutmen. Hal ini menambah praduga negatif terhadap sistem rekrutmen yang masih tertutup, eksklusif, dan nepotis. Apabila watak “melanggar batas” demikian itu diajegkan, maka secara tidak sadar akan terbawa ke ranah-ranah publik, seperti lembaga pemerintahan.

Elite parpol yang merasa menguasai lembaga pemerintahan tertentu tidak segan-segan untuk ikut mengatur perekrutan anggotanya. Akibatnya, birokrasi publik yang lahir kerap kali tunduk pada aturan main partai. Fenomena ini menggambarkan kondisi yang oleh J. Chant (1972) disebut politisasi birokrasi, yakni birokrasi yang ada merupakan tangan panjang elite parpol pengusung, sehingga aktivitas birokrasi pun keputusan perekrutan tidak lebih sekadar kepura-puraan di depan publik. Sekali lagi, kasus Romahurmuziy mempertegas argumentasi ini.

BACA JUGA :  Dampak Manuver Politik Romi Hariyanto Bagi PAN Pada Pilgub Jambi 2024

Faktor keempat, yakni keuangan partai, menjadi bahasan yang acap kompleks. Dalam kasus yang menimpa Romahurmuziy, saya bisa mengatakan adanya upaya mengkapitalisasi modal yang tersedia di lapangan Kemenag untuk mendanai manuver partai. Dana APBN yang dirasa tidak memadai ditambah pembatasan sumbangan pihak ketiga oleh UU Parpol mengakibatkan pimpinan partai harus melakukan langkah licik: memompa iuran dari anggota partai yang berprofesi sebagai pejabat.
Niat baik tersebut bisa diawali dengan mengharuskan semua partai politik membuat rancangan yang sistematis, mulai dari kode etik keanggotaan, panduan berupa modul terkait rekrutmen dan kaderisasi, regulasi kerja kepartaian, implementasi sistem yang berkelanjutan, pengadaan sistem monitoring dan evaluasi, serta penjangkauan akses publik terhadap aktivitas partai.

Berita Terkait

Notaris di Pusaran Kriminalisasi: Dialektika Politik Hukum dan Penemuan Hukum
Politik Hukum Jabatan Notaris
Perlindungan Hukum Terhadap Notaris Dalam Pelaksanaan Jabatan
Penemuan Hukum dan Politik Hukum Terkait Notaris: Sebuah Tinjauan
Cyber Notary dan Politik Hukum: Menatap Masa Depan Akta Otentik
Hubungan Praktik dan Kebijakan Politik Hukum Dalam Implementasi Hukum Notaris
Jabatan Notaris Sebagai Upaya Menjaga Kepastian Hukum
Ketidakjelasan Batas antara Kesalahan Administratif dan Tanggung Jawab Pidana Notaris
Berita ini 60 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 15:33

ADA APA DENGAN DANA BOS SMPN 2 TANJAB BARAT? Dugaan Anggaran Boros Tak Berbekas, Mantan Kepsek Diduga Lakukan Pungli Ratusan Ribu Per Siswa!

Senin, 11 Mei 2026 - 13:07

BUMDESMA ASTAN JAYA BATANG ASAM BERASIL MENGELOLA KETAHANAN PANGAN.

Minggu, 10 Mei 2026 - 19:04

Bendahara Desa Rawa Medang Akui Dana di Atas Rp 50 Juta Ditarik & Disimpan Langsung Oleh Kades

Minggu, 10 Mei 2026 - 13:58

Dugaan Penyimpangan Dana Desa Rawa Medang, Kadis PMD Tegas: Kami Panggil Pekan Depan, Akan Selidiki & Libatkan Inspektorat!

Minggu, 10 Mei 2026 - 13:55

Dugaan Penyimpangan Dana Desa Rawa Mefang, Kadis PMD Tegas: Kami Panggil Pekan Depan, Akan Selidiki & Libatkan Inspektorat!

Minggu, 10 Mei 2026 - 09:59

Wabub Katamso Sambut Tim Kementerian Kehutanan, Mangrove Pangkal Babu Diproyeksikan Jadi Pilar Ketahanan Pesisir

Minggu, 10 Mei 2026 - 09:55

Bupati Anwar Sadat Sambut Menkes dan Gubernur Jambi di RSUD kH Daud Arif, Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Daerah

Sabtu, 9 Mei 2026 - 10:16

PLN ULP Kuala Tungkal: Pekerjaan Peningkatan Jaringan, Pemadaman Terjadwal Sabtu 9 Mei 2026 Demi Layanan Lebih Andal

Berita Terbaru