Batanghari – Pertengahan bulan suci Ramadan yang seharusnya menjadi momen ketenangan dan ibadah bagi umat Muslim, justru berubah menjadi siksaan tak berujung bagi warga Kabupaten Batanghari, Jambi. (7/3/2026)
Kemacetan panjang yang kembali melanda jalur angkutan batu bara di wilayah Muara Bulian bukan sekadar gangguan lalu lintas, melainkan sebuah ketidakadilan yang terus berulang dan tak kunjung ada solusi.
Antrean kendaraan mengular panjang membentang berkilometer, mulai dari Kelurahan Sridadi hingga Desa Tenam. Truk-truk angkutan batu bara memenuhi seluruh jalur, bercampur aduk dengan kendaraan pribadi hingga membentuk antrean tiga lapis yang padat sesak. Arus lalu lintas tidak berjalan lambat, melainkan hampir terhenti total—seolah-olah jalan raya ini bukan milik publik, melainkan milik eksklusif industri batu bara yang tak peduli pada penderitaan orang lain.
Salah satu pengendara kendaraan pribadi menceritakan penderitaannya yang menyayat hati: ia sudah terjebak dalam kemacetan sejak pukul 03.00 WIB, saat waktu sahur yang seharusnya dinikmati dengan tenang bersama keluarga, hingga pagi hari tiba. Di dalam kendaraan yang terperangkap di antara deretan truk raksasa, sahur menjadi makanan yang dimakan dengan perasaan frustrasi, dan aktivitas pagi hari pun hancur lebur. “Kendaraan hampir tidak bergerak sama sekali. Kami terjebak di sini tanpa tahu kapan bisa keluar,” keluhnya dengan nada putus asa.
Situasi ini bukan kejadian baru, melainkan masalah yang terus berulang dan menimbulkan kemarahan yang meledak-ledak dari para pengguna jalan. Warga yang hendak beraktivitas di pagi hari selama Ramadan merasa hak mereka atas akses jalan yang layak dan lancar telah diinjak-injak. Mereka tidak lagi hanya sekadar mengeluh, melainkan menuntut jawaban yang tegas.
Di mana pihak berwenang saat warga Batanghari tersiksa oleh kemacetan ini? Mengapa pengaturan lalu lintas yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka begitu lemah dan tidak konsisten? Apakah kepentingan industri batu bara lebih penting daripada kenyamanan dan hak hidup warga, terutama di bulan suci yang penuh berkah ini?
Masyarakat tidak akan lagi menerima alasan yang tidak jelas. Mereka menuntut tindakan nyata dan segera: pengaturan lalu lintas yang tegas, terukur, dan berkeadilan.
Jika pihak berwenang tetap diam dan membiarkan masalah ini terus berlanjut, maka itu adalah bukti nyata ketidakpedulian mereka terhadap penderitaan rakyat. Kapan kemacetan mencekik ini akan berakhir? Warga Batanghari menunggu jawaban yang nyata, bukan janji kosong yang tak pernah terpenuhi.







