Permasalahan Unggas Indonesia Dalam Perdagangan Internasional

Avatar

- Redaksi

Minggu, 9 Oktober 2022 - 20:14

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Yola Manulang Ilmu Hukum Universitas Jambi

Dalam sejarah pertanian pasca kemerdekaan, peternakan ayam ras pedaging merupakan salah satu contoh yang membanggakan dari prestasi dan prestasi besar para pejabat pemerintah, peternak, peternak, peternak dan dokter hewan. Ayam pedaging telah menjadi primadona dan panutan agribisnis Indonesia. Saat ini, bagaimanapun, suasana yang harmonis belum tercapai pada unggas. Disharmoni itu berpihak pada pekebun swadaya, subsektor pertanian yang terisolasi dari integrasi vertikal hulu dan hilir. Subsektor petani kecil mandiri inilah yang sering menjadi korban. Keuntungannya paling kecil, sedangkan risiko kerugiannya sering terjadi. Mereka menjadi reservoir untuk produksi DOC (ayam berumur satu hari) dan memberi makan bisnis, yang seringkali melebihi perkiraan permintaan. Harga ayam hidup (live bird) pada saat panen seringkali lebih rendah dari biaya produksi. Jika kita perhatikan, kejadian ini berulang dari awal tahun 1980-an hingga sekarang. Terkadang peternak mandiri ini ikut menikmati harga ayam yang tinggi, namun jika harganya dianggap terlalu tinggi, pemerintah menurunkan harga dengan berbagai cara. Memang, pemerintah berkomitmen penuh untuk menyelesaikan masalah ini.

BACA JUGA :  Operasi Pasar, Ratusan Warga Marosebo Ulu Rela Mengantri Dari Jam 2 Subuh Demi Dapatkan Gas Elpiji 3kg

Pemerintah melaksanakan dua upaya utama, yaitu kondisi kebutuhan dan kecukupan. Pertama, memenuhi persyaratan wajib, yaitu. itu segera menciptakan koherensi timbal balik antara subregional dari sektor pertanian. Kedua, memenuhi persyaratan kelayakan, yang berarti peluang penghasilan langsung untuk semua sub-sektor. Harapan baru telah diberikan oleh pemerintahan saat ini yang sistematis, komprehensif, komprehensif dan adil dan penanganannya. Petani kecil mandiri yang telah menderita selama bertahun-tahun harus menggunakan hak mereka untuk hidup dan mendapatkan keuntungan selama panen. Hingga saat ini unggas tersebut masih memiliki kendala dan permasalahan mendasar yang menghambat daya saing, pertumbuhan dan perkembangannya. Batasan dan permasalahan tersebut berasal dari dalam negeri (internal, regional, nasional) dan dari luar negeri (eksternal, global). Kelebihan pasokan merupakan kendala internal tersembunyi yang memperumit harga dan kualitas. Pada tahun 2017 masalah ini diselesaikan dengan mengarahkan produksi ke dan burung hidup.

Masalah internal berikutnya, ketergantungan pada benih Grand Parent Stock (GPS) dan komponen jagung impor. Ketidakpastian kebijakan nilai tukar rupiah pemerintah, impor jagung, bahan pakan, dan obat- obatan hewan memperumit masalah internal peternak ayam. Oleh karena itu, jika ditilik lebih jauh, pekebun swadaya menderita dua sisi, yaitu biaya input yang tinggi akibat tingginya impor pakan dan kelebihan pasokan ayam hidup yang mengakibatkan rendahnya harga jual. Tidak kalah pentingnya dan mendesak adalah biaya produksi yang tinggi, hambatan birokrasi pusat dan daerah; harga bahan bakar dan listrik yang tinggi; buruknya kualitas dan kuantitas infrastruktur seperti jalan, jembatan, air bersih, pasar dan sarana pemasaran; dan kredit untuk investasi modal kerja di sektor perunggasan mahal dan sulit diperoleh.

BACA JUGA :  Pengunaan Dana Bos SDN 21/I Buluh Kasab Diduga Fiktif

Karena hambatan birokrasi pemerintah (yang memberlakukan kebijakan berbahaya yang melarang impor bahan baku pakan jagung) dan ekonomi biaya tinggi, hal ini menyebabkan fluktuasi harga yang besar, kenaikan harga pakan (lebih mahal dari Bangladesh dan Vietnam) dan akhirnya harga burung hidup bervariasi dan harganya relatif mahal. Kondisi ini melemahkan daya saing produk akhir dan membuat pasar domestik rentan terhadap ancaman produk impor. Ancaman dan tekanan dari meningkatnya persaingan global (eksternal) di hampir semua rantai nilai yang relevan, mulai dari farmasi, bahan tambahan makanan, bahan pakan, ayam hidup, ayam segar dan olahan hingga persaingan dari makanan ayam siap saji. Sebuah “perang ayam” global saat ini sedang berlangsung.

BACA JUGA :  Bupati Batanghari Pimpin Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2025

Amerika Serikat, Eropa, Rusia, Brasil, Cina, Vietnam dan Thailand secara bersamaan meningkatkan produksi ayam dan telur untuk memperkuat ketahanan pangan domestik dan penentuan nasib sendiri, dan mengekspor secara berlebihan ke pasar dunia. Persaingan global dan “perang ayam” internasional meningkatkan daya saing dan meningkatkan tekanan pasar global terhadap pelaku dan pemangku kepentingan industri perunggasan nasional, terutama petani kecil, yang memiliki posisi tawar paling lemah. Ancaman ayam beku asal Brazil mengetuk pintu impor Indonesia, namun ancaman paha ayam belum berhenti. Pada saat yang sama, semakin sulit untuk mengontrol masuknya pasar produk olahan berbasis daging ayam. (*)

Berita Terkait

PT MSS Salurkan Hewan Qurban Kepada Warga Simpang Sungai Rengas
Klarifikasi: Isu Terkait Desa Rawa Medang Kecamatan Batang Asam Hanya Kesalahanpahaman Belaka
GEDUNG DPRD BATANGHARI MEMANAS, RATUSAN BURUH PT MSS KEPUNG DEWAN, TOLAK PEMUTUSAN KONTRAK SEPIHAK BERAROMA INTERVENSI POLITIK
RATUSAN BURUH PT MSS MENGEPUNG PABRIK: BONGKAR INTERVENSI BUPATI & ANGGOTA DEWAN, IZIN PABRIK DIJADIKAN UTAK UTIK GANTI PIMPINAN SERIKAT!
Mobil Camat Muara Papalik Dikejar Anak Harimau, Warga Dihimbau Waspada! Diperkirakan Induknya Ada di sekitar
Waspada! Dua Pengendara Motor Diduga Coba Lakukan Aksi Jambret di Wilayah Tungkal Ulu
BUMDes Badang Sepakat Jual Elpiji di Atas HET, Pangkalan Atas Nama Anak Pengelola, Tak Transparan
DPRD Batang Hari Gelar Rapat Badan Kehormatan, Laksanakan Sidang Kode Etik Demi Tegakkan Kehormatan Lembaga
Berita ini 51 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:10

PT MSS Salurkan Hewan Qurban Kepada Warga Simpang Sungai Rengas

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:59

Klarifikasi: Isu Terkait Desa Rawa Medang Kecamatan Batang Asam Hanya Kesalahanpahaman Belaka

Senin, 25 Mei 2026 - 23:35

GEDUNG DPRD BATANGHARI MEMANAS, RATUSAN BURUH PT MSS KEPUNG DEWAN, TOLAK PEMUTUSAN KONTRAK SEPIHAK BERAROMA INTERVENSI POLITIK

Senin, 25 Mei 2026 - 10:12

RATUSAN BURUH PT MSS MENGEPUNG PABRIK: BONGKAR INTERVENSI BUPATI & ANGGOTA DEWAN, IZIN PABRIK DIJADIKAN UTAK UTIK GANTI PIMPINAN SERIKAT!

Senin, 25 Mei 2026 - 08:09

Mobil Camat Muara Papalik Dikejar Anak Harimau, Warga Dihimbau Waspada! Diperkirakan Induknya Ada di sekitar

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:53

BUMDes Badang Sepakat Jual Elpiji di Atas HET, Pangkalan Atas Nama Anak Pengelola, Tak Transparan

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:44

DPRD Batang Hari Gelar Rapat Badan Kehormatan, Laksanakan Sidang Kode Etik Demi Tegakkan Kehormatan Lembaga

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:42

Warga Desa Sungai Buluh Unjuk Rasa di DPRD Batang Hari, Tuntut PT JDR Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal

Berita Terbaru