TANJUNG JABUNG BARAT – Di tengah keindahan alam Desa Lubuk Bernai, Kecamatan Batang Asam, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, tersimpan sebuah legenda yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Kisah tentang manusia yang berubah menjadi naga. Kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan bagian dari sejarah desa yang masih hidup dalam ingatan masyarakat.
Agus Mardi (51), seorang warga Desa Lubuk Bernai, yang kini memegang amanah untuk menjaga serpihan sisik naga. Ia merupakan keturunan ke-8 dari tokoh utama dalam legenda ini. Menurutnya, sisik naga ini adalah bukti nyata dari peristiwa yang terjadi pada masa lalu, tepatnya pada awal pembukaan Desa Lubuk Bernai di era penjajahan Belanda.
“Ini sisik dari tempurung lutut, dan ini pun sudah tinggal serpihan. Dulunya sebesar piring,” ujar Agus Mardi, Pada Jumat (24/10/2025) menunjukkan serpihan sisik yang ia simpan dengan hati-hati. Sebagai anak lelaki sulung dari lima bersaudara, ia merasa bertanggung jawab untuk menjaga warisan berharga ini.
Kisah ini bermula ketika dua saudara perempuan mencari ikan di Sungai Asam dengan menggunakan tangguk. Di tengah kesibukan mereka menangkap ikan dan udang, salah seorang dari mereka menemukan sebutir telur di tepi sungai. Telur itu kemudian dibawa pulang dan direbus di pondok mereka.
“Kakaknya berkata kalau telur itu tidak boleh adiknya makan karena kalau dimakan telur itu akan merubah wujud,” cerita seorang tokoh adat setempat. Namun, gurauan itu justru menjadi kenyataan.
Setelah memakan telur itu, sang kakak merasakan kehausan yang luar biasa. Meskipun telah meminum seluruh air yang ada di pondok mereka, rasa hausnya tak kunjung hilang. Ia kemudian meminta adiknya untuk membawanya ke tepi Sungai Asam. Di sanalah, di tepi sungai yang tenang, perubahan wujud itu terjadi secara perlahan.
Saimah, seorang warga setempat, mengaku sering mendengar cerita ini dari orang tuanya. “Dulu bapak sering menceritakan itu ke kami,” ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa dulu ada sebuah batu berbentuk segi empat seperti bantal di Tanjung Genting yang diyakini sebagai bekas tempat berbaring sang naga. Namun, batu itu kini telah hilang karena longsor.
Selain itu Saimah mengaku pernah melihat bekas berseluncur nya naga. Hal itu diyakini saat naga turun ke sungai dari tepian hingga tanah membekas
Sebelum berubah wujud, sang kakak mencabut satu sisik di bagian lututnya dan memberikannya kepada adiknya. “Aku akan pergi ke lautan luas,” ujarnya sebelum menghilang di Sungai Asam.
Serpihan sisik yang kini disimpan oleh Agus Mardi menjadi saksi bisu dari legenda yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Desa Lubuk Bernai. Kisah ini terus diceritakan dari generasi ke generasi, mengingatkan masyarakat akan kekuatan alam, misteri kehidupan, dan pentingnya menjaga warisan budaya.







