JAMBI – Di tengah tantangan ketahanan energi nasional, peran industri hulu migas kini tidak hanya berfokus pada pengeboran dan produksi, tetapi juga pada komunikasi dan edukasi publik. Hal tersebut disampaikan Koordinator Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Perwakilan Sumbagsel, Kurnia Ariwijayanti, saat memberikan paparan dalam kegiatan Media Field Trip di Pertamina EP Jambi, pada Selasa (23/6/2026).
Kurnia menjelaskan, tugas utama SKK Migas selaku wakil pemerintah adalah memastikan penambahan cadangan minyak dan gas bumi terus berjalan. Strategi saat ini telah berubah, di mana pemerintah kini proaktif menawarkan wilayah kerja (WK) migas kepada investor, bukan lagi menunggu peminat datang. Investasi yang dibutuhkan pun sangat besar, satu kali pengeboran sumur di daratan saja membutuhkan biaya sekitar 4 hingga 5 juta Dolar AS.
“Karena fokus kami mencari dan mengangkat migas, sering kali kami lupa berkomunikasi dengan pemangku kepentingan. Akibatnya, banyak terjadi kesalahpahaman di masyarakat mengenai keberadaan kami maupun KKKS. Di sinilah peran media sangat strategis, menjadi jembatan informasi agar publik paham bahwa apa yang kami kerjakan adalah milik negara, milik Republik Indonesia,” jelas Kurnia.
Ia juga menekankan bahwa kehadiran industri migas tidak hanya memberikan dampak saat hasil bumi terjual, namun sudah mulai dirasakan sejak tahap eksplorasi melalui program-program Sosial Investment. Salah satu contohnya adalah program pelibatan dan pengembangan masyarakat yang menyentuh bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan.
Menurutnya, media diharapkan tidak hanya memberitakan sisi operasional, namun juga menyampaikan nilai positif kontribusi industri.
“Kami ingin wartawan berjalan bersama kami, bahkan berlari bersama kami. Jadilah saksi bagaimana kami berjuang menjalankan amanah negara, lalu sampaikanlah kepada masyarakat agar kegiatan ini terus didukung dan berjalan lancar,” tambahnya.
Kurnia berharap sinergi yang terjalin dengan Forum Jurnalis Migas (FJM) semakin erat, sehingga informasi yang sampai ke publik selalu berkualitas, edukatif, dan konstruktif.







